Kemacetan lalu lintas di Jakarta dan sekitarnya membuat sejumlah area nongkrong jadi tempat singgah. Tak hanya menawarkan tempat bernaung sementara, biasanya tempat-tempat ini juga menawarkan suasana yang menyenangkan sekaligus hidangan lezat.
Uniknya, beberapa tempat menawarkan hidangan khas Cina, dim sum, sembari menunggu kemacetan berkurang. Tempat-tempat ini umumnya dibuka dari sekitar pukul 17.00 hingga menjelang atau lewat tengah malam.
Sebut saja Dim Sum di Jalan Kemang Raya atau Dim Sum Festival di Jalan Radio Dalam Raya. Dulu Dim Sum membuka cabang di daerah Al-Azhar, Kebayoran, tapi ditutup sehingga hanya ada di Kemang Raya, yang hampir selalu padat tiap jam pulang kantor.
Tak hanya di tengah kota, konsep tempat nongkrong plus hidangan dim sum juga ada di daerah pinggiran. Misalnya rumah makan Dermaga Dim Sum, yang berdiri tak jauh dari pintu keluar tol Cibubur. Meski sudah berkali-kali singgah ke tempat ini, kemarin malam Tempo kembali menyempatkan diri menikmati dua porsi dim sum dan secangkir teh Cina sebelum pulang ke rumah.
Dim sum berasal dari Cina. Hidangan ini mulai populer ketika jalur sutra--jalur globalisasi darat kuno yang menghubungkan Barat dengan Timur--masih dilewati para saudagar dan pelancong dari Arab ke Cina. Dim sum dan teh Cina menjadi hidangan pilihan para saudagar ketika mereka beristirahat di daerah Kanton, Cina. Dalam perkembangannya, dim sum menjadi makanan pendamping waktu minum teh dan camilan yang cocok dinikmati kapan pun.
Nah, Dermaga Dim Sum tampaknya menjual konsep yang mirip dengan sejarah hidangan dim sum itu sendiri. Slogannya saja "a tasty breakfood". Jadi, ketika para pekerja kantor lelah mengendarai mobil menembus kemacetan di Jakarta, mereka dapat singgah sebentar di pintu keluar tol Cibubur menikmati hidangan dim sum, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Apalagi rumah makan ini dibuka sejak pukul 10.00 hingga 01.00.
Pada akhir pekan, pelanggan yang datang ke rumah makan ini lebih ramai dari biasanya. Kadang ada pula live music, seperti karaoke, akustik, atau organ tunggal, untuk menyemarakkan akhir pekan. Untuk live music, Dermaga Dim Sum mungkin harus sedikit memperhatikan kenyamanan konsumen. Beberapa kali ke tempat ini, Tempo merasa live music yang dimainkan sedikit mengganggu kenikmatan ketika menyantap hidangan dan waktu mengobrol kala makan karena suaranya yang terlalu keras.
Dari segi arsitektur, rumah makan ini berbentuk dekonstruktif. Ada kemiringan hingga 60 derajat di salah satu dinding berjendela kaca. Tiang penyangga di tengah ruangan menyeimbangkan kemiringan itu dengan sudut 60 derajat ke sisi yang berlawanan. Suasana Cina tampak dari interiornya, yang dipenuhi warna merah, hitam, dan lampion persegi yang tergantung di tiap meja.
Di sisi yang berseberangan dengan dinding dekonstruktif, pelanggan bisa menyaksikan aktivitas dapur karena rumah makan ini mengusung konsep dapur terbuka. Ada pula panggung kecil di salah satu sudut untuk live music. Meski rumah makan ini terkesan kecil, penataan yang pas dengan furnitur modern membuat ruangan tersebut terasa lebih luas.
Tak hanya tepat untuk pekerja kantor yang pulang malam, tempat ini juga bisa jadi area nongkrong yang asyik. Para remaja atau pasangan sering terlihat menikmati dim sum ini di luar ruangan. Dermaga Dim Sum berlokasi di tepian danau kecil.
Bosan menikmati dim sum di dalam ruangan? Ada tenda-tenda kecil menghadap ke danau dilengkapi dengan kursi dan meja untuk makan. Nongkrong di pinggiran danau sambil menyantap dim sum ditemani embusan angin semilir tetap sama asyiknya baik waktu sore ataupun malam hari. Saat sore hari, pemandangan danau akan terlihat indah dengan efek warna yang muncul di air. Pada waktu malam, kerlipan cahaya di sisi lain danau membuat suasana terasa romantis.
Nah, dari hidangannya sendiri, kemarin malam, dim sum pesanan Tempo tersedia di atas meja dalam keadaan hangat. Hakau-nya terasa empuk dan gurih. Ketika digigit, daging udang akan terasa segar dengan sedikit cipratan air kaldu. Bila Anda lapar berat, ada hidangan sup, aneka makanan laut, dan bebek Peking panggang yang bisa jadi pilihan. Harganya bervariasi, dari satu porsi dim sum Rp 16 ribu hingga satu ekor bebek Peking panggang seharga Rp 195 ribu. (AMANDRA MUSTIKA MEGARANI - tempo interaktif)
Lihat juga : ice cream, sour sally
Tidak ada komentar:
Posting Komentar